Jakarta – Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang dijalankan pemerintah terus memperkuat kualitas layanan kesehatan nasional melalui deteksi dini berbagai penyakit pada anak usia sekolah. Dari hasil pemeriksaan terhadap 4,8 juta anak di 48 ribu sekolah di seluruh Indonesia sepanjang 1 Januari hingga 3 Mei 2026, pemerintah menemukan adanya peningkatan kasus tekanan darah tinggi yang menjadi perhatian serius dalam upaya menjaga kualitas kesehatan generasi muda.
Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) Indonesia, Muhammad Qodari, mengatakan hasil pemeriksaan menunjukkan sebanyak 663 ribu anak mengalami peningkatan tekanan darah. Selain itu, ditemukan pula 1,1 juta anak mengalami gigi berlubang dan 239 ribu anak mengalami penumpukan kotoran di telinga. Menurutnya, temuan tersebut menjadi bukti pentingnya penguatan layanan kesehatan berbasis deteksi dini.
Program CKG memberikan manfaat nyata karena berbagai gangguan kesehatan dapat diketahui lebih awal sehingga penanganan bisa dilakukan secara cepat dan tepat. Dengan demikian, kesehatan anak dapat terus dijaga untuk mendukung proses belajar dan tumbuh kembang yang optimal, ujar Muhammad Qodari.
Ia menegaskan, peningkatan tekanan darah pada anak tidak boleh dipandang sebagai persoalan sepele karena berpotensi memengaruhi kualitas kesehatan di masa mendatang. Oleh sebab itu, pemerintah terus memperkuat edukasi pola hidup sehat melalui sekolah, keluarga, dan fasilitas pelayanan kesehatan.
CKG sekolah bukan sekadar pemeriksaan rutin, tetapi bagian dari upaya membangun sistem kesehatan yang lebih berkualitas melalui deteksi dini, edukasi, dan penanganan berkelanjutan, katanya.
Pemerintah juga memastikan pelaksanaan CKG terus diperluas di seluruh daerah dengan dukungan lebih dari 10 ribu puskesmas di 514 kabupaten/kota. Secara keseluruhan, sejak 2025 hingga awal Mei 2026, program tersebut telah menjangkau sekitar 100 juta penduduk Indonesia.
Sementara itu, Anggota Komisi IX DPR RI, Ashabul Kahfi, menilai temuan kasus tekanan darah tinggi pada anak menjadi momentum penting untuk memperkuat budaya hidup sehat sejak usia dini. Menurutnya, sekolah memiliki peran strategis dalam membangun kebiasaan sehat bagi peserta didik.
Kami melihat hasil CKG ini sebagai langkah positif dalam memperkuat kesadaran hidup sehat sekaligus meningkatkan kualitas kesehatan anak Indonesia sejak dini, ujar Ashabul Kahfi.
Ia juga mendorong penguatan pemetaan faktor risiko kesehatan anak, mulai dari pola konsumsi makanan, aktivitas fisik, hingga lingkungan keluarga. Langkah tersebut dinilai penting agar kebijakan kesehatan pemerintah semakin tepat sasaran dan mampu menciptakan generasi Indonesia yang sehat, unggul, dan berkualitas.

