Oleh: Nadira Citra Maheswari)*
Memasuki penghujung 2026, kebutuhan rumah tangga dan aktivitas ekonomi masyarakat menjadi perhatian penting dalam menjaga daya beli. Peningkatan kebutuhan pangan, transportasi, dan mobilitas selama libur akhir tahun berpotensi menambah beban pengeluaran keluarga. Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, pemerintah menyiapkan empat program stimulus ekonomi dengan total anggaran sekitar Rp31 triliun pada kuartal IV 2026.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menjelaskan bahwa paket kebijakan tersebut meliputi pembukaan rekening tanpa biaya, bantuan beras, Bantuan Subsidi Upah (BSU), serta diskon transportasi. Berbagai program ini diarahkan untuk mempertahankan daya beli masyarakat hingga penghujung tahun. Program pertama berupa fasilitas pembukaan rekening gratis bagi masyarakat berusia 17 tahun ke atas, dengan dukungan anggaran Rp1,28 triliun. Setiap rekening baru akan memperoleh saldo awal Rp50.000. Airlangga menyebutkan, pemerintah masih melakukan pencocokan data calon penerima bersama kementerian terkait, terutama masyarakat yang masuk kelompok kesejahteraan desil 1 hingga desil 4.
Program ini membuka kesempatan bagi masyarakat untuk mengakses layanan keuangan formal, termasuk menerima bantuan dan melakukan transaksi secara lebih mudah. Perluasan akses perbankan juga dapat mendukung pengelolaan keuangan rumah tangga, selama diikuti pemanfaatan rekening secara berkelanjutan dan perlindungan konsumen. Program kedua adalah bantuan pangan berupa beras sebanyak 10 kilogram per bulan kepada 33.244.408 keluarga penerima manfaat selama Oktober–Desember 2026. Pemerintah menganggarkan sekitar Rp17,54 triliun untuk membantu memenuhi kebutuhan pangan keluarga berpenghasilan rendah.
Bantuan tersebut dapat mengurangi pengeluaran rutin rumah tangga sehingga sebagian anggaran dapat dialihkan untuk kebutuhan lain, seperti lauk-pauk, pendidikan, kesehatan, dan transportasi. Dukungan terhadap kebutuhan pokok juga berpotensi menjaga konsumsi masyarakat sekaligus membantu mempertahankan aktivitas perdagangan di pasar tradisional dan usaha kecil. Selanjutnya, pemerintah menyiapkan BSU bagi sekitar 13,3 juta pekerja dengan penghasilan maksimal Rp3,5 juta. Bantuan sebesar Rp300.000 per bulan selama tiga bulan tersebut memiliki total anggaran Rp11,97 triliun. Penyaluran direncanakan berlangsung sekaligus pada November atau Desember 2026.
Bagi pekerja berpenghasilan terbatas, tambahan bantuan dapat membantu memenuhi kebutuhan keluarga ketika pengeluaran meningkat menjelang pergantian tahun. Dukungan terhadap pendapatan pekerja juga berpotensi mempertahankan konsumsi rumah tangga, yang berperan penting dalam menjaga permintaan barang dan jasa serta keberlangsungan usaha mikro, kecil, dan menengah. Program keempat berupa potongan biaya transportasi selama periode Natal 2026 dan Tahun Baru 2027. Insentif mencakup diskon tiket pesawat domestik dan kereta api, pengurangan tarif dasar kapal laut, serta pembebasan biaya jasa kepelabuhanan bagi angkutan penyeberangan. Pemerintah mengalokasikan sekitar Rp883,4 miliar untuk mendukung kebijakan tersebut.
Kementerian Perhubungan juga menyampaikan alokasi Rp722 miliar untuk stimulus Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN-DTP) bagi penerbangan domestik kelas ekonomi selama periode Natal dan Tahun Baru. Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, Lukman F. Laisa, menjelaskan bahwa kebijakan tersebut telah memperoleh persetujuan melalui Peraturan Menteri Keuangan sebagai landasan pelaksanaan stimulus penerbangan akhir tahun. Lukman menyebutkan, masyarakat telah dapat membeli tiket pesawat untuk memanfaatkan insentif setelah Kementerian Keuangan menerbitkan regulasi pelaksanaannya.
Anggaran Rp722 miliar disiapkan untuk mendukung implementasi kebijakan sekaligus menjaga keterjangkauan biaya perjalanan udara ketika permintaan meningkat menjelang akhir tahun. Menurut Lukman, stimulus ini merupakan bagian dari upaya pemerintah mempertahankan keterjangkauan layanan transportasi udara pada masa peningkatan mobilitas masyarakat. Kebijakan tersebut juga diharapkan mendukung kelancaran mobilitas nasional dengan memberikan kesempatan bagi masyarakat melakukan perjalanan menggunakan pesawat dengan biaya lebih ringan.
Pengurangan biaya transportasi berpotensi memberikan manfaat lebih luas daripada sekadar meringankan pengeluaran penumpang. Peningkatan mobilitas dapat mendorong aktivitas perdagangan, pariwisata, kuliner, penginapan, dan usaha lokal di berbagai daerah. Dengan demikian, insentif transportasi berpotensi membantu menjaga perputaran ekonomi selama periode liburan. Keempat program stimulus tersebut memiliki sasaran yang saling melengkapi, mulai dari pemenuhan kebutuhan pangan dan dukungan pendapatan pekerja hingga perluasan akses keuangan serta keterjangkauan transportasi. Kombinasi kebijakan ini menunjukkan perhatian terhadap kebutuhan masyarakat sekaligus upaya menjaga konsumsi domestik menjelang akhir tahun.
Namun, efektivitas program tetap bergantung pada ketepatan sasaran, kelancaran penyaluran, dan keterbukaan informasi. Pencocokan data penerima, penyampaian persyaratan yang jelas, serta mekanisme pengaduan yang mudah diakses diperlukan agar manfaat stimulus dapat diterima secara optimal. Evaluasi berkala juga penting untuk mengukur dampak program terhadap pengeluaran rumah tangga dan aktivitas ekonomi.
Menjelang pergantian tahun, stimulus ekonomi menjadi salah satu instrumen untuk membantu keluarga dan pekerja menghadapi peningkatan kebutuhan sekaligus menjaga daya beli. Apabila dilaksanakan secara tepat sasaran dan transparan, rangkaian kebijakan tersebut berpotensi meringankan beban masyarakat, mendukung keberlangsungan usaha, dan mempertahankan perputaran ekonomi domestik menuju 2027.
Sinergi antarkementerian dan lembaga juga menjadi faktor penting dalam memastikan seluruh stimulus berjalan efektif. Koordinasi pelaksanaan, pengawasan anggaran, dan penyebaran informasi yang mudah dipahami dapat membantu masyarakat memanfaatkan program sesuai ketentuan. Dengan pelaksanaan yang konsisten, stimulus diharapkan tidak hanya memberikan manfaat jangka pendek, tetapi juga memperkuat ketahanan ekonomi keluarga menghadapi kebutuhan tahun berikutnya.
*) Penulis adalah Content Writer di Galaswara Digital Bureau
