Jakarta – Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menyampaikan bahwa pemerintah terus mempercepat pengembangan proyek pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa) di berbagai kota besar sebagai solusi strategis dalam mengatasi persoalan sampah sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.
Arahan tersebut disampaikan langsung oleh Presiden Prabowo Subianto kepada Kepala BPI Danantara, Rosan Perkasa Roeslani, dalam upaya mempercepat implementasi program pengolahan sampah menjadi energi listrik (PSEL).
“Kepala Danantara Rosan Roeslani melaporkan perkembangan program waste to energy [WtE] atau program Pengelolaan Sampah Menjadi Energi Listrik [PSEL] di seluruh Indonesia, khususnya yang berada di kota-kota besar dan padat penduduk seperti DKI Jakarta, Tangerang, Bandung, Semarang, Surabaya, Medan, Bali, dan kota lainnya di Indonesia,” kata Teddy.
Ia menjelaskan, proyek PSEL menjadi salah satu solusi konkret untuk mengatasi persoalan sampah yang selama ini belum tertangani secara optimal di berbagai daerah.
Selain mengurangi timbunan sampah, program ini juga diharapkan mampu menghasilkan energi listrik yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat.
“Presiden Prabowo menginginkan pemerintah pusat segera mengelola sampah-sampah yang telah lama tidak tertangani dengan baik di daerah untuk segera dibersihkan, dihilangkan, dan dimanfaatkan untuk menjadi energi terutama energi listrik,” lanjutnya.
Pemerintah menilai percepatan pembangunan pembangkit listrik tenaga sampah di kota-kota besar menjadi langkah penting mengingat volume sampah yang terus meningkat seiring pertumbuhan penduduk dan aktivitas ekonomi.
Dengan pendekatan waste to energy, sampah tidak lagi dipandang sebagai beban lingkungan, melainkan sebagai sumber daya yang memiliki nilai ekonomi.
Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menyampaikan bahwa pemerintah menargetkan sedikitnya 18 proyek PSEL dapat berjalan hingga periode 2028–2029.
Empat proyek tahap awal yang berada di Denpasar, Bekasi, Bogor Raya, dan Yogyakarta telah memasuki tahap kontrak dan direncanakan mulai konstruksi dalam waktu dekat.
Pada tahap berikutnya, pemerintah akan menambah sekitar 14 proyek baru di kota-kota besar lainnya, termasuk Jakarta yang menjadi prioritas utama. Tingginya volume sampah harian di ibu kota menjadi alasan kuat percepatan implementasi proyek ini.
Di sisi lain, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa program waste to energy merupakan bagian penting dalam strategi nasional untuk memperkuat ketahanan energi.
“Kami membahas perkembangan program Waste to Energy (WTE) sebagai solusi pengelolaan sampah menjadi energi dan penguatan ketahanan energi nasional,” tulis Bahli dikutip dari akun Instagram pribadinya.
[w.R]

